Kamis, 20 November 2014



Artikel tentang ‘’Green Industry’’
Guntur Susila Ade Putra
41614110065

Green Industry adalah sebuah istilah yang dikenal melalui International Conference on Green Industry in Asia di Manila, Filipina tahun 2009, atas kerjasama antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), United Nations Environment Programme (UNEP), International Labour Organization (ILO), dan dihadiri 22 negara termasuk Indonesia. Salah satu output dari pertemuan tersebut adalah dokumen Manila Declaration on Green Industry in Asia.
Green industry merupakan konsep pengembangan industri yang berkelanjutan secara ekonomi, lingkungan, dan sosial, dimana seti ap jenis industri berpotensi untuk “green”. Dalam Rencana Aksi Deklarasi Manila, telah dirumuskan langkah-langkah yang diperlukan untuk mereduksi intensitas penggunanan sumberdaya alam dan emisi karbon dari sektor industri di Asia, serta memonitor upaya-upaya dalam skala nasional. Dalam deklarasi tersebut, pilar-pilar yang tercakup dalam green industry adalah produksi bersih produk dan layanan yang berwawasan lingkungan serta pertumbuhan dan daya saing. Secara menyeluruh, konsep green industry merupakan cara pengembangan sektor industri yang berkesinambungan, baik secara ekonomi, lingkungan, maupun sosial (EPS, 2009). Industri-industri yang dapat menerapkan green industry adalah industri yang bergerak di sektor “envirinmental good” dan jasa, meliputi : industri pendaur ulang, pengolah limbah, pemusnah limbah, pengangkut limbah, konsultan lingkungan, industri pengolah air limbah, pengendali pencemaran udara, peralatan pengolah limbah, industri manufaktur dan instalasi peralatan energi yang terbarukan, konsultan energi, laboratorium khusus pengukuran dan analisa lingkungan, dan industri yang memproduksi teknologi bersih. Menurut OECD, konsumsi sumber daya alam per kapita di wilayah Asia jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju (OECD). Sedangkan dilihat dari intensitas konsumsi sumber daya untuk menghasilkan satu satuan GDP sebesar dua kali dari intensitas konsumsi sumber daya di Eropa dan Amerika Utara. Dengan demikian, masih ada peluang untuk meningkatkan efisiensi sumber daya di Asia. Dengan melakukan efisiensi sumber daya terutama di sektor industri antara lain melalui 3R dan penggunaan low carbon resources, maka akan menurunkan biaya produksi sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing internasional serta mencapai target di bidang lingkungan yaitu penurunan emisi CO2.

Industri Peternakan dan Global Warming Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah membuka mata dunia, industri peternakan merupakan penyebab utama pemanasan global. Industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 18 persen, jumlah ini melebihi gabungan emisi dari seluruh transportasi di dunia seperti motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter yang menyumbang 13 persen gas rumah kaca atau pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen gas rumah kaca. PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun pertama dan 23 kali lebih kuat dari CO2 dalam 100 tahun). Secara keseluruhan, sekitar 86 juta ton metana dihasilkan dari sistem pencernaan sapi dan kambing, dan 18 juta ton lagi berasal dari kotoran ternak yang menyumbang 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 298 kali lebih kuat dari CO2), serta 64 persen amonia penyebab hujan asam. Peternakan juga menjadi penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Mengurangi Konsumsi Daging Sebuah laporan dari Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan 25% energi yang dibutuhkan oleh diet yang berbasis daging. Penelitian yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya. Dengan mengurangi sedikit saja konsumsi daging, berarti anda telah ikut melakukan sebuah aksi penyelamatan lingkungan. Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Industri Peternakan dan Global Warming Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah membuka mata dunia, industri peternakan merupakan penyebab utama pemanasan global. Industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 18 persen, jumlah ini melebihi gabungan emisi dari seluruh transportasi di dunia seperti motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter yang menyumbang 13 persen gas rumah kaca atau pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen gas rumah kaca. PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun pertama dan 23 kali lebih kuat dari CO2 dalam 100 tahun). Secara keseluruhan, sekitar 86 juta ton metana dihasilkan dari sistem pencernaan sapi dan kambing, dan 18 juta ton lagi berasal dari kotoran ternak yang menyumbang 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 298 kali lebih kuat dari CO2), serta 64 persen amonia penyebab hujan asam. Peternakan juga menjadi penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Mengurangi Konsumsi Daging Sebuah laporan dari Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan 25% energi yang dibutuhkan oleh diet yang berbasis daging. Penelitian yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya. Dengan mengurangi sedikit saja konsumsi daging, berarti anda telah ikut melakukan sebuah aksi penyelamatan lingkungan. Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Industri Peternakan dan Global Warming Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah membuka mata dunia, industri peternakan merupakan penyebab utama pemanasan global. Industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 18 persen, jumlah ini melebihi gabungan emisi dari seluruh transportasi di dunia seperti motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter yang menyumbang 13 persen gas rumah kaca atau pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen gas rumah kaca. PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun pertama dan 23 kali lebih kuat dari CO2 dalam 100 tahun). Secara keseluruhan, sekitar 86 juta ton metana dihasilkan dari sistem pencernaan sapi dan kambing, dan 18 juta ton lagi berasal dari kotoran ternak yang menyumbang 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 298 kali lebih kuat dari CO2), serta 64 persen amonia penyebab hujan asam. Peternakan juga menjadi penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Mengurangi Konsumsi Daging Sebuah laporan dari Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan 25% energi yang dibutuhkan oleh diet yang berbasis daging. Penelitian yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya. Dengan mengurangi sedikit saja konsumsi daging, berarti anda telah ikut melakukan sebuah aksi penyelamatan lingkungan. Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Make Money at : http://bit.ly/copy_win


Salah satu green industry (peternakan)
Promosi berbagai inovasi peternakan ramah lingkungan, serta dalam rangka merumuskan kebijakan strategis dan langkah operasional dalam mendukung swasembada daging, telah dilakukan Badan Litbang Pertanian dengan menyelenggarakan Ekspose dan Seminar Nasional Inovasi Peternakan Ramah Lingkungan pada tanggal 19-20 Juni 2012 di Kebun Percobaan (KP) Gowa Sulawesi Selatan. Pembukaan dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Kepala Balitbangda Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya Gubernur Sulsel memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya ekspose dan seminar nasional peternakan yang dikaitkan dengan isu lingkungan, topik yang diangkat sangat relevan dengan semangat menuju Go Green Indonesia. Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan berharap launching KP Gowa sebagai Breeding Center ternak sapi untuk Indonesia Wilayah Timur dapat segera dipercepat mengingat letak yang cukup strategis serta agrosistem Provinsi Sulsel sangat mendukung didalam penyediaan ternak khususnya sapi potong di Indonesia.
Sementara itu dalam salah satu sambutan Kepala BBP2TP Dr. Agung Hendriadi, M.Eng menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dengan semangat yang tertuang dalam tagline Badan Litbang Pertanian yakni Science . Innovation . Networks. kegiatan ekspose dan seminar nasional inovasi peternakan ramah lingkungan selain mengangkat isu global juga mensinergikan berbagai lembaga baik pemerintahan maupun non pemerintahan termasuk perguruan tinggi. Peserta yang hadir dalam ekspose kali ini diperkirakan 1.000 orang yang berasal dari lingkup Badan Litbang Pertanian, penyuluh dari lingkup Bakorluh, SKPD Provinsi, petani binaan lingkup SKPD Pertanian, Balai Besar Pelatihan Pertanian Batang Kaluku, Mahasiswa, STIP Gowa, tokoh masyarakat dan petani, Kelompok Wanita Tani KRPL, dan SKPD lingkup Pertanian Kabupaten/Kota. Adapun penyelenggaraan kegiatan Seminar Nasional kali ini mengangkat tema Akselerasi Inovasi Peternakan Ramah Lingkungan,
Kepala Badan Litbang Pertanian dalam sambutannya yang disampaikan oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Dr. Kasdi Subagyono, mengemukakan tentang komitmen kuat Badan Litbang Pertanian dalam penciptaan inovasi berbasis lingkungan. Berbagai inovasi ramah lingkungan yang telah dihasilkan untuk dimplementasikan di lapangan, seperti konsep zero waste dalam pengembangan ternak yang dapat menghasilkan biogas, energi listrik, pupuk organik. Peranan BPTP sebagai ujung tombak Badan Litbang Pertanian di daerah memegang posisi strategis untuk bersinergi dengan stake holder seperti Pemda, Swasta, Perguruan Tinggi untuk mereplikasi inovasi teknologi yang telah dihasilkan.
Ekspose inovasi teknologi peternakan menampilkan produk-produk teknologi seperti teknologi penampungan biogas, pakan murah dari limbah pertanian, pengolahan limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik padat (POP) dan pupuk organik cair (POC), pembuatan mikroorganisme lokal (MOL), teknologi pembuatan pestisida nabati, dan pembuatan jamu ternak. Sementara untuk memudahkan petani dalam melihat inovasi suatu teknologi dilakukan peragaan teknologi meliputi: Pola pemeliharaan ternak sistem zero waste (ramah lingkungan), koleksi hijauan makanan ternak, koleksi kebun buah dan sayuran organik, teknologi penggunaan berbagai leguminosa lokal untuk ternak sapi, pembuatan biosuplemen tradisional untuk ternak sapi, teknologi budidaya sayuran, dan teknologi budidaya tanaman pangan (demplot tanaman jagung dan varietas padi lokal unggulan). Kegiatan lain yang tidak kalah menarik adalah Inovasi pupuk organik padat dan cair, pakan ternak dari limbah perkebunan kakao dan kelapa sawit, pembuatan pupuk granular mini, dekomposer pembenah tanah M-Dec, pakan UMB, jamu ternak, Probion, BioAvian, aneka vaksin ternak, dan lain sebagainya. Beberapa media yang disediakan agar pengunjung lebih mudah didalam memahami inovasi teknologi diantaranya melalui berbagai media seperti poster, banner, leaflet, brosur, juknis maupun media elektronik (VCD). (jaslit-bpt).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar