Artikel tentang ‘’Green Industry’’
Guntur Susila Ade Putra
41614110065
Green Industry adalah
sebuah istilah yang dikenal melalui International Conference on Green Industry
in Asia di Manila, Filipina tahun 2009, atas kerjasama antara United Nations
Industrial Development Organization (UNIDO), United Nations Economic and Social
Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), United Nations Environment
Programme (UNEP), International Labour Organization (ILO), dan dihadiri 22
negara termasuk Indonesia. Salah satu output dari pertemuan tersebut adalah
dokumen Manila Declaration on Green Industry in Asia.
Industri Peternakan dan
Global Warming Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah
membuka mata dunia, industri peternakan merupakan penyebab utama
pemanasan global. Industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca
sebesar 18 persen, jumlah ini melebihi gabungan emisi dari seluruh
transportasi di dunia seperti motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta
api, helikopter yang menyumbang 13 persen gas rumah kaca atau
pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen gas
rumah kaca. PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya
berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan
salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan
melepaskan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai
efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun pertama dan 23
kali lebih kuat dari CO2 dalam 100 tahun). Secara keseluruhan, sekitar
86 juta ton metana dihasilkan dari sistem pencernaan sapi dan kambing,
dan 18 juta ton lagi berasal dari kotoran ternak yang menyumbang 65
persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 298 kali lebih kuat
dari CO2), serta 64 persen amonia penyebab hujan asam. Peternakan juga
menjadi penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen
bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak.
Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton
CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah
kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk
menanam pakan ternak. Mengurangi Konsumsi Daging Sebuah laporan dari
Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan
25% energi yang dibutuhkan oleh diet yang berbasis daging. Penelitian
yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas
Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan
daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah
pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil
hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan
menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya. Dengan mengurangi
sedikit saja konsumsi daging, berarti anda telah ikut melakukan sebuah
aksi penyelamatan lingkungan.
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Industri Peternakan dan
Global Warming Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah
membuka mata dunia, industri peternakan merupakan penyebab utama
pemanasan global. Industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca
sebesar 18 persen, jumlah ini melebihi gabungan emisi dari seluruh
transportasi di dunia seperti motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta
api, helikopter yang menyumbang 13 persen gas rumah kaca atau
pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen gas
rumah kaca. PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya
berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan
salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan
melepaskan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai
efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun pertama dan 23
kali lebih kuat dari CO2 dalam 100 tahun). Secara keseluruhan, sekitar
86 juta ton metana dihasilkan dari sistem pencernaan sapi dan kambing,
dan 18 juta ton lagi berasal dari kotoran ternak yang menyumbang 65
persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 298 kali lebih kuat
dari CO2), serta 64 persen amonia penyebab hujan asam. Peternakan juga
menjadi penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen
bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak.
Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton
CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah
kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk
menanam pakan ternak. Mengurangi Konsumsi Daging Sebuah laporan dari
Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan
25% energi yang dibutuhkan oleh diet yang berbasis daging. Penelitian
yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas
Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan
daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah
pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil
hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan
menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya. Dengan mengurangi
sedikit saja konsumsi daging, berarti anda telah ikut melakukan sebuah
aksi penyelamatan lingkungan.
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Industri Peternakan dan
Global Warming Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah
membuka mata dunia, industri peternakan merupakan penyebab utama
pemanasan global. Industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca
sebesar 18 persen, jumlah ini melebihi gabungan emisi dari seluruh
transportasi di dunia seperti motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta
api, helikopter yang menyumbang 13 persen gas rumah kaca atau
pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen gas
rumah kaca. PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya
berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan
salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan
melepaskan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai
efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun pertama dan 23
kali lebih kuat dari CO2 dalam 100 tahun). Secara keseluruhan, sekitar
86 juta ton metana dihasilkan dari sistem pencernaan sapi dan kambing,
dan 18 juta ton lagi berasal dari kotoran ternak yang menyumbang 65
persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 298 kali lebih kuat
dari CO2), serta 64 persen amonia penyebab hujan asam. Peternakan juga
menjadi penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen
bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak.
Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton
CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah
kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk
menanam pakan ternak. Mengurangi Konsumsi Daging Sebuah laporan dari
Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan
25% energi yang dibutuhkan oleh diet yang berbasis daging. Penelitian
yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas
Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama: mengganti pola makan
daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah
pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil
hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan
menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya. Dengan mengurangi
sedikit saja konsumsi daging, berarti anda telah ikut melakukan sebuah
aksi penyelamatan lingkungan.
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Salah satu green industry
(peternakan)
Promosi berbagai inovasi peternakan ramah
lingkungan, serta dalam rangka merumuskan kebijakan strategis dan langkah
operasional dalam mendukung swasembada daging, telah dilakukan Badan Litbang
Pertanian dengan menyelenggarakan Ekspose dan Seminar Nasional Inovasi
Peternakan Ramah Lingkungan pada tanggal 19-20 Juni 2012 di Kebun Percobaan
(KP) Gowa Sulawesi Selatan. Pembukaan dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan
yang diwakili oleh Kepala Balitbangda Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya
Gubernur Sulsel memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya ekspose
dan seminar nasional peternakan yang dikaitkan dengan isu lingkungan, topik
yang diangkat sangat relevan dengan semangat menuju Go Green Indonesia.
Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan berharap launching KP Gowa sebagai
Breeding Center ternak sapi untuk Indonesia Wilayah Timur dapat segera
dipercepat mengingat letak yang cukup strategis serta agrosistem Provinsi
Sulsel sangat mendukung didalam penyediaan ternak khususnya sapi potong di
Indonesia.
Sementara itu dalam salah satu sambutan Kepala
BBP2TP Dr. Agung Hendriadi, M.Eng menyampaikan bahwa kegiatan ini
diselenggarakan dengan semangat yang tertuang dalam tagline Badan Litbang
Pertanian yakni Science . Innovation . Networks. kegiatan ekspose dan seminar
nasional inovasi peternakan ramah lingkungan selain mengangkat isu global juga
mensinergikan berbagai lembaga baik pemerintahan maupun non pemerintahan
termasuk perguruan tinggi. Peserta yang hadir dalam ekspose kali ini
diperkirakan 1.000 orang yang berasal dari lingkup Badan Litbang Pertanian,
penyuluh dari lingkup Bakorluh, SKPD Provinsi, petani binaan lingkup SKPD
Pertanian, Balai Besar Pelatihan Pertanian Batang Kaluku, Mahasiswa, STIP Gowa,
tokoh masyarakat dan petani, Kelompok Wanita Tani KRPL, dan SKPD lingkup
Pertanian Kabupaten/Kota. Adapun penyelenggaraan kegiatan Seminar Nasional kali
ini mengangkat tema Akselerasi Inovasi Peternakan Ramah Lingkungan,
Kepala Badan Litbang Pertanian dalam sambutannya
yang disampaikan oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Dr. Kasdi Subagyono,
mengemukakan tentang komitmen kuat Badan Litbang Pertanian dalam penciptaan
inovasi berbasis lingkungan. Berbagai inovasi ramah lingkungan yang telah
dihasilkan untuk dimplementasikan di lapangan, seperti konsep zero waste dalam
pengembangan ternak yang dapat menghasilkan biogas, energi listrik, pupuk
organik. Peranan BPTP sebagai ujung tombak Badan Litbang Pertanian di daerah
memegang posisi strategis untuk bersinergi dengan stake holder seperti Pemda,
Swasta, Perguruan Tinggi untuk mereplikasi inovasi teknologi yang telah
dihasilkan.
Ekspose inovasi teknologi peternakan menampilkan
produk-produk teknologi seperti teknologi penampungan biogas, pakan murah dari
limbah pertanian, pengolahan limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik padat
(POP) dan pupuk organik cair (POC), pembuatan mikroorganisme lokal (MOL),
teknologi pembuatan pestisida nabati, dan pembuatan jamu ternak. Sementara
untuk memudahkan petani dalam melihat inovasi suatu teknologi dilakukan
peragaan teknologi meliputi: Pola pemeliharaan ternak sistem zero waste (ramah
lingkungan), koleksi hijauan makanan ternak, koleksi kebun buah dan sayuran
organik, teknologi penggunaan berbagai leguminosa lokal untuk ternak sapi,
pembuatan biosuplemen tradisional untuk ternak sapi, teknologi budidaya
sayuran, dan teknologi budidaya tanaman pangan (demplot tanaman jagung dan
varietas padi lokal unggulan). Kegiatan lain yang tidak kalah menarik adalah
Inovasi pupuk organik padat dan cair, pakan ternak dari limbah perkebunan kakao
dan kelapa sawit, pembuatan pupuk granular mini, dekomposer pembenah tanah
M-Dec, pakan UMB, jamu ternak, Probion, BioAvian, aneka vaksin ternak, dan lain
sebagainya. Beberapa media yang disediakan agar pengunjung lebih mudah didalam
memahami inovasi teknologi diantaranya melalui berbagai media seperti poster,
banner, leaflet, brosur, juknis maupun media elektronik (VCD). (jaslit-bpt).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar